Showing posts with label Pengembangan Diri. Show all posts
Showing posts with label Pengembangan Diri. Show all posts

October 5, 2014

CARA BERKOMUNIKASI

ILMU KOMUNIKASI

Sebagian besar manusia kurang memperhatikan PENTINGN YA ilmu komunikasi Salah dalam berkomunikasi, akan menimbulkan akibat yang buruk Satu contoh saja Jika anda diminta untuk membantu tetangga, atau diminta hadir dalam sebuah kegiatan Tapi pada saat bersamaan, anda harus menemani anak anda yang sedang sakit Apa yang akan anda katakan...? Kebanyakan orang akan berkata 'Maaf saya ngga bisa, karena anak saya sedang sakit' Sekilas, jawaban tersebut memang tidak salah Tapi, ada perkataan yang lebih baik Anda bisa berkata 'Insya Alloh saya bisa, tapi anak saya sedang sakit' Apa perbedaan dari dua perkataan di atas...? Sangat berbeda, dan pengaruhnya terhadap orang lain pun sangat berbeda Dalam hadits yang shohih dari sahabat Jabir bin Abdillah, beliau berkata: Rosululloh tidak pernah diminta sesuatu apa pun, lalu mengatakan 'TIDAK'. Kemudian, dari sisi pengaruh terhadap orang lain pun sangat berbeda Kata 'NGGA BISA' yang anda ucapkan, tertancap dalam-dalam di pikiran orang lain Bahwa anda ngga bisa membantu mereka, atau ngga bisa memenuhi undangan mereka Hanya saja, mereka memaklumi anda karena anak anda sedang sakit Tapi, kata 'BISA' yang anda katakan, pengaruhnya sangat baik di pikiran orang lain Orang lain akan salut kepada anda, karena meskipun anak anda sedang sakit, Anda mampu berkata 'BISA' Dan orang lain pun akan merasa lebih dihormati oleh anda, maka anda pun akan dihormati oleh mereka insya alloh Jadi... Pengaruh dari kata 'Ngga bisa' adalah mereka memaklumi andaf Sedangkan pengaruh dari kata 'bisa' adalah mereka salut dan menghormati anda Lalu, sama kah dua perkataan di atas...? Tidak kan....? Perkataan 'bisa' mencontoh rosululloh dan pengaruh nya pun baik Sedangkan perkataan 'ngga bisa' tidak sesuai dengan perkataan rosululloh dan pengaruhnya pun biasa saja Silahkan anda pilih yang mana, karena dua-duanya mudah dan bisa anda lakukan Tapi, orang lain akan merespon sesuai dengan perkataan yang anda ucapkan

September 16, 2014

Tiga Langkah Positif Mendapatkan Jawaban ”Ya”

Tiga Langkah Positif Mendapatkan Jawaban ”Ya”

”Ya, produk Bapak akan saya beli. Ya, Ibu akan saya bantu. Ya, gaji Anda akan saya naikkan. Ya, Anda akan mendapatkan kenaikan jabatan seperti yang Anda minta. Ya, Anda akan memperoleh pelayanan yang terbaik. Ya, permintaan Anda pasti saya luluskan.”

ROY SEMBEL DAN SANDRA SEMBEL (Dirut EdPro)

Betapa merdunya kata ”ya” yang didengungkan untuk memenuhi permintaan kita. Untuk memperoleh jawaban merdu tersebut seringkali kita harus melewati berbagai kendala, antara lain rasa percaya diri rendah, keterampilan dan pengetahuan yang kurang, salah interpretasi. Tetapi jangan khawatir, Gene Bedell, dalam bukunya 3 Steps to Yes, mengungkapkan tiga langkah untuk mendapatkan jawaban ”ya”.

Penuhi Kebutuhan
Jika seseorang memerlukan uang, dan ada orang yang dapat memberikan bantuan finansial yang anda butuhkan, kemungkinan besar, orang yang membutuhkan uang bersedia menerima bantuan tersebut. Nah, prinsip seperti inilah yang menjadi dasar dari langkah pertama untuk mendapat jawaban YA. Caranya adalah dengan mengemas permintaan kita dengan pendekatan yang berorientasi pada orang yang kita tuju tersebut. Untuk itu, kita perlu mengenal orang tersebut dengan baik untuk mengetahui kebutuhan yang dimiliki dan persoalan yang dihadapi.

Mendengar
Salah satu cara efektif adalah dengan ”mendengar” apa pun yang dikatakan oleh orang tersebut, baik secara langsung maupun tidak langsung. Dengan ”mendengar” kita mendapat informasi mengenai keinginan orang yang kita tuju, persoalan yang dihadapi, dan kemampuan serta kelemahan orang tersebut. Informasi ini sangat penting bagi kita untuk menyusun strategi selanjutnya.
Untuk mengetahui kebutuhan dan kesulitan yang klien, Anda bisa memulai dengan pertanyaan pembuka, misalnya: ”Mungkin Anda bisa menceritakan kesulitan yang Anda hadapi, sehingga kami bisa mendapat gambaran lengkap untuk mencari jalan keluar bagi Anda!” atau ”Jika Anda bisa menceritakan apa yang Anda butuhkan, kami akan mencarikan produk yang sesuai cocok untuk Anda.”

Menawarkan ”kemenangan”

Setiap orang pasti ingin memperoleh sukses atau pun merasakan kemenangan. Nah, berikan ”kemenangan” itu untuk memperoleh jawaban YA. Misalnya saja, seorang ayah yang ingin menasihati anaknya yang mengalami krisis kepercayaan diri bisa memulai dengan mengatakan sebagai berikut, ”Waktu ayah sekolah di SMA dulu, ayah merasa sangat kurang di segala bidang. Masalah ini mungkin mirip dengan yang kamu alami saat ini. Tapi ternyata ayah menemukan cara yang cukup efektif untuk mengatasi masalah ini. Mungkin kamu akan tertarik dengan apa yang ayah lakukan tersebut.” Dari contoh ini terlihat bahwa sang ”ayah” tidak langsung melarang, memarahi, atau pun menggurui anaknya, melainkan ia menawarkan ”solusi” bagi masalah yang dihadapi anak tersebut. Pendekatan ini memiliki kemungkinan sukses yang lebih tinggi dari pada sekedar menasihati atau pun memarahi sang anak.

Bangun Kredibilitas

Akan lebih mudah bagi kita untuk mengatakan YA pada seseorang yang kita percaya dan kita hormati. Jadi, membangun rasa ”percaya” itu merupakan salah satu kunci untuk memperoleh jawaban YA. Kepercayaan tidak diperoleh dalam sekejap, tetapi perlu dibangun.




Keahlian

Untuk mendapatkan kredibilitas, kualitas kerja, keterampilan, dan pengetahuan yang luas sangat diperlukan. Untuk itu, kita perlu menunjukkan pada lingkungan bahwa kita senantiasa berusaha melakukan yang terbaik, dan meng”update” pengetahuan dan keterampilan kita dengan membaca, berdiskusi, atau pun mengikuti pendidikan tambahan (misalnya: sekolah, training, seminar). Cara lain adalah dengan tidak segan-segan belajar dari pengalaman (sendiri atau pun orang lain, dan berusaha mencari cara baru untuk melakukan yang lebih baik dari yang sebelumnya.

Kejujuran

Kredibilitas juga bisa dibangun melalui konsistensi, terutama dalam menunjukkan sikap jujur. Jika orang di lingkungan kita melihat bahwa kita selalu tulus dalam membantu orang, dan tidak pernah menutupi kelemahan atau pun masalah dengan kebohongan, maka orang akan cenderung percaya bahwa apa pun yang kita minta adalah untuk tujuan yang baik.

Untuk itu, dari pada membohong, akan lebih bijaksana jika kita berterus terang dengan bijaksana menggarisbawahi ”apa yang Anda mampu lakukan.” Misalnya saja untuk memenangkan klien, seorang konsultan manajemen bisa mengatakan sebagai berikut: ”Kami telah menangani lima kasus yang serupa dengan yang Anda alami. Klien kami yang mengikuti usulan yang kami tawarkan melaporkan adanya peningkatan dalam penjualan produk mereka sebanyak 20%.”

Komunikasikan dengan Efektif

Setelah mempelajari kebutuhan dan kesulitan yang dihadapi orang yang kita tuju, dan memenangkan rasa percaya orang tersebut, langkah terakhir adalah mengkomunikasikan ide kita dengan efektif. Untuk itu ada dua persyaratan penting yang perlu diperhatikan:

Bicara satu bahasa

Pimpinan perusahaan konsultan IT yang akan menjual software kepada sebuah perusahaan retail berbicara dengan pimpinan perusahaan retail tersebut dalam sebuah pertemuan. Sang pimpinan konsultan IT tahu benar bahwa software yang akan ditawarkannya tersebut memang sangat diperlukan oleh perusahaan retail.
Berbekal pengetahuan teknis komputer yang dimiliki, sang penjual menerangkan produk yang ditawarkan tersebut dengan bahasa IT yang sulit dimengerti oleh calon pembelinya yang praktisi bisnis. Hasilnya? Bisa Anda tebak: pasti jawabannya TIDAK. Jadi, sebelum mengkomunikasikan keinginan kita, kita perlu mengenal siapa yang kita hadapi, dan ”bahasa” yang bagaimana yang bisa dimengerti oleh orang tersebut.

Gunakan alat bantu

Komunikasi akan menjadi lebih efektif jika kita bisa menggunakan alat bantu apa pun yang bisa kita dapatkan, antara lain: alat peraga, peragaan, layar monitor, contoh, ilustrasi, gambar, grafik, dan tabel. Dari pada hanya mengandalkan kata-kata, komunikasi akan lebih berbobot jika kita menggunakan fakta penunjang berupa data statistik yang akurat, sehingga data tersebut akan berbicara untuk kita. Misalnya dalam interview untuk mendapatkan pekerjaan, calon karyawan bisa menggunakan data untuk mengkomunikasikan kredibilitasnya, ”Sepanjang 5 tahun saya menjabat sebagai kepala departemen pemasaran di perusahaan yang sejenis dengan perusahaan ini, bekerja sama dengan 5 anak buah, saya bisa membantu meningkatkan penjualan perusahaan rata-rata sebesar 20% per tahun.”

Untuk mendapatkan jawaban YA dari sebuah permintaan, usulan, atau pun penawaran, mengapa tidak mencoba menerapkan tiga langkah yang telah dibahas di atas, yaitu: penuhi kebutuhan, bangun kredibilitas, dan komunikasikan dengan efektif. Silahkan mencoba.



September 15, 2014

Kisah inspirasi untuk pasangan suami istri (atau yang akan berumah menikah)

Kisah inspirasi untuk pasangan suami istri (atau yang akan berumah menikah)

Semoga peristiwa di bawah ini membuat kita belajar bersyukur untuk apa yang kita miliki :

Aku membencinya, itulah yang selalu kubisikkan dalam hatiku hampir sepanjang kebersamaan kami. Meskipun menikahinya, aku tak pernah benar-benar menyerahkan hatiku padanya. Menikah karena paksaan orangtua, membuatku membenci suamiku sendiri.

Walaupun menikah terpaksa, aku tak pernah menunjukkan sikap benciku. Meskipun membencinya, setiap hari aku melayaninya sebagaimana tugas istri. Aku terpaksa melakukan semuanya karena aku tak punya pegangan lain. Beberapa kali muncul keinginan meninggalkannya tapi aku tak punya kemampuan finansial dan dukungan siapapun. Kedua orangtuaku sangat menyayangi suamiku karena menurut mereka, suamiku adalah sosok suami sempurna untuk putri satu-satunya mereka.

Ketika menikah, aku menjadi istri yang teramat manja. Kulakukan segala hal sesuka hatiku. Suamiku juga memanjakanku sedemikian rupa. Aku tak pernah benar-benar menjalani tugasku sebagai seorang istri. Aku selalu bergantung padanya karena aku menganggap hal itu sudah seharusnya setelah apa yang ia lakukan padaku. Aku telah menyerahkan hidupku padanya sehingga tugasnyalah membuatku bahagia dengan menuruti semua keinginanku.

Di rumah kami, akulah ratunya. Tak ada seorangpun yang berani melawan. Jika ada sedikit saja masalah, aku selalu menyalahkan suamiku. Aku tak suka handuknya yang basah yang diletakkan di tempat tidur, aku sebal melihat ia meletakkan sendok sisa mengaduk susu di atas meja dan meninggalkan bekas lengket, aku benci ketika ia memakai komputerku meskipun hanya untuk menyelesaikan pekerjaannya. Aku marah kalau ia menggantung bajunya di kapstock bajuku, aku juga marah kalau ia memakai pasta gigi tanpa memencetnya dengan rapi, aku marah kalau ia menghubungiku hingga berkali-kali ketika aku sedang bersenang-senang dengan teman-temanku.

Tadinya aku memilih untuk tidak punya anak. Meskipun tidak bekerja, tapi aku tak mau mengurus anak. Awalnya dia mendukung dan akupun ber-KB dengan pil. Tapi rupanya ia menyembunyikan keinginannya begitu dalam sampai suatu hari aku lupa minum pil KB dan meskipun ia tahu ia membiarkannya. Akupun hamil dan baru menyadarinya setelah lebih dari empat bulan, dokterpun menolak menggugurkannya.

Itulah kemarahanku terbesar padanya. Kemarahan semakin bertambah ketika aku mengandung sepasang anak kembar dan harus mengalami kelahiran yang sulit. Aku memaksanya melakukan tindakan vasektomi agar aku tidak hamil lagi. Dengan patuh ia melakukan semua keinginanku karena aku mengancam akan meninggalkannya bersama kedua anak kami.

Waktu berlalu hingga anak-anak tak terasa berulang tahun yang ke-delapan. Seperti pagi-pagi sebelumnya, aku bangun paling akhir. Suami dan anak-anak sudah menungguku di meja makan. Seperti biasa, dialah yang menyediakan sarapan pagi dan mengantar anak-anak ke sekolah. Hari itu, ia mengingatkan kalau hari itu ada peringatan ulang tahun ibuku. Aku hanya menjawab dengan anggukan tanpa mempedulikan kata-katanya yang mengingatkan peristiwa tahun sebelumnya, saat itu aku memilih ke mal dan tidak hadir di acara ibu. Yaah, karena merasa terjebak dengan perkawinanku, aku juga membenci kedua orangtuaku.

Sebelum ke kantor, biasanya suamiku mencium pipiku saja dan diikuti anak-anak. Tetapi hari itu, ia juga memelukku sehingga anak-anak menggoda ayahnya dengan ribut. Aku berusaha mengelak dan melepaskan pelukannya. Meskipun akhirnya ikut tersenyum bersama anak-anak. Ia kembali mencium hingga beberapa kali di depan pintu, seakan-akan berat untuk pergi.

Ketika mereka pergi, akupun memutuskan untuk ke salon. Menghabiskan waktu ke salon adalah hobiku. Aku tiba di salon langgananku beberapa jam kemudian. Di salon aku bertemu salah satu temanku sekaligus orang yang tidak kusukai. Kami mengobrol dengan asyik termasuk saling memamerkan kegiatan kami. Tiba waktunya aku harus membayar tagihan salon, namun betapa terkejutnya aku ketika menyadari bahwa dompetku tertinggal di rumah. Meskipun merogoh tasku hingga bagian terdalam aku tak menemukannya di dalam tas. Sambil berusaha mengingat-ingat apa yang terjadi hingga dompetku tak bisa kutemukan aku menelepon suamiku dan bertanya.

“Maaf sayang, kemarin Farhan meminta uang jajan dan aku tak punya uang kecil maka kuambil dari dompetmu. Aku lupa menaruhnya kembali ke tasmu, kalau tidak salah aku letakkan di atas meja kerjaku.” Katanya menjelaskan dengan lembut.

Dengan marah, aku mengomelinya dengan kasar. Kututup telepon tanpa menunggunya selesai bicara. Tak lama kemudian, handphoneku kembali berbunyi dan meski masih kesal, akupun mengangkatnya dengan setengah membentak. “Apalagi??”

“Sayang, aku pulang sekarang, aku akan ambil dompet dan mengantarnya padamu. Sayang sekarang ada dimana?” tanya suamiku cepat , kuatir aku menutup telepon kembali. Aku menyebut nama salonku dan tanpa menunggu jawabannya lagi, aku kembali menutup telepon. Aku berbicara dengan kasir dan mengatakan bahwa suamiku akan datang membayarkan tagihanku. Si empunya Salon yang sahabatku sebenarnya sudah membolehkanku pergi dan mengatakan aku bisa membayarnya nanti kalau aku kembali lagi. Tapi rasa malu karena “musuh”ku juga ikut mendengarku ketinggalan dompet membuatku gengsi untuk berhutang dulu.

Hujan turun ketika aku melihat keluar dan berharap mobil suamiku segera sampai. Menit berlalu menjadi jam, aku semakin tidak sabar sehingga mulai menghubungi handphone suamiku. Tak ada jawaban meskipun sudah berkali-kali kutelepon. Padahal biasanya hanya dua kali berdering teleponku sudah diangkatnya. Aku mulai merasa tidak enak dan marah.

Teleponku diangkat setelah beberapa kali mencoba. Ketika suara bentakanku belum lagi keluar, terdengar suara asing menjawab telepon suamiku. Aku terdiam beberapa saat sebelum suara lelaki asing itu memperkenalkan diri, “selamat siang, ibu. Apakah ibu istri dari bapak armandi?” kujawab pertanyaan itu segera. Lelaki asing itu ternyata seorang polisi,  ia memberitahu bahwa suamiku mengalami kecelakaan dan saat ini ia sedang dibawa ke rumah sakit kepolisian. Saat itu aku hanya terdiam dan hanya menjawab terima kasih. Ketika telepon ditutup, aku berjongkok dengan bingung. Tanganku menggenggam erat handphone yang kupegang dan beberapa pegawai salon mendekatiku dengan sigap bertanya ada apa hingga wajahku menjadi pucat seputih kertas.

Entah bagaimana akhirnya aku sampai di rumah sakit. Entah bagaimana juga tahu-tahu seluruh keluarga hadir di sana menyusulku. Aku yang hanya diam seribu bahasa menunggu suamiku di depan ruang gawat darurat. Aku tak tahu harus melakukan apa karena selama ini dialah yang melakukan segalanya untukku. Ketika akhirnya setelah menunggu beberapa jam, tepat ketika kumandang adzan maghrib terdengar seorang dokter keluar dan menyampaikan berita itu. Suamiku telah tiada. Ia pergi bukan karena kecelakaan itu sendiri, serangan stroke-lah yang menyebabkan kematiannya. Selesai mendengar kenyataan itu, aku malah sibuk menguatkan kedua orangtuaku dan orangtuanya yang shock. Sama sekali tak ada airmata setetespun keluar di kedua mataku. Aku sibuk menenangkan ayah ibu dan mertuaku. Anak-anak yang terpukul memelukku dengan erat tetapi kesedihan mereka sama sekali tak mampu membuatku menangis.

Ketika jenazah dibawa ke rumah dan aku duduk di hadapannya, aku termangu menatap wajah itu. Kusadari baru kali inilah aku benar-benar menatap wajahnya yang tampak tertidur pulas. Kudekati wajahnya dan kupandangi dengan seksama. Saat itulah dadaku menjadi sesak teringat apa yang telah ia berikan padaku selama sepuluh tahun kebersamaan kami. Kusentuh perlahan wajahnya yang telah dingin dan kusadari inilah kali pertama kali aku menyentuh wajahnya yang dulu selalu dihiasi senyum hangat. Airmata merebak dimataku, mengaburkan pandanganku. Aku terkesiap berusaha mengusap agar airmata tak menghalangi tatapan terakhirku padanya, aku ingin mengingat semua bagian wajahnya agar kenangan manis tentang suamiku tak berakhir begitu saja. Tapi bukannya berhenti, airmataku semakin deras membanjiri kedua pipiku. Peringatan dari imam mesjid yang mengatur prosesi pemakaman tidak mampu membuatku berhenti menangis. Aku berusaha menahannya, tapi dadaku sesak mengingat apa yang telah kuperbuat padanya terakhir kali kami berbicara.

Aku teringat betapa aku tak pernah memperhatikan kesehatannya. Aku hampir tak pernah mengatur makannya. Padahal ia selalu mengatur apa yang kumakan. Ia memperhatikan vitamin dan obat yang harus kukonsumsi terutama ketika mengandung dan setelah melahirkan. Ia tak pernah absen mengingatkanku makan teratur, bahkan terkadang menyuapiku kalau aku sedang malas makan. Aku tak pernah tahu apa yang ia makan karena aku tak pernah bertanya. Bahkan aku tak tahu apa yang ia sukai dan tidak disukai. Hampir seluruh keluarga tahu bahwa suamiku adalah penggemar mie instant dan kopi kental. Dadaku sesak mendengarnya, karena aku tahu ia mungkin terpaksa makan mie instant karena aku hampir tak pernah memasak untuknya. Aku hanya memasak untuk anak-anak dan diriku sendiri. Aku tak perduli dia sudah makan atau belum ketika pulang kerja. Ia bisa makan masakanku hanya kalau bersisa. Iapun pulang larut malam setiap hari karena dari kantor cukup jauh dari rumah. Aku tak pernah mau menanggapi permintaannya untuk pindah lebih dekat ke kantornya karena tak mau jauh-jauh dari tempat tinggal teman-temanku.

Saat  pemakaman, aku tak mampu menahan diri lagi. Aku pingsan ketika melihat tubuhnya hilang bersamaan onggokan tanah yang menimbun. Aku tak tahu apapun sampai terbangun di tempat tidur besarku. Aku terbangun dengan rasa sesal memenuhi rongga dadaku. Keluarga besarku membujukku dengan sia-sia karena mereka tak pernah tahu mengapa aku begitu terluka kehilangan dirinya.

Hari-hari yang kujalani setelah kepergiannya bukanlah kebebasan seperti yang selama ini kuinginkan tetapi aku malah terjebak di dalam keinginan untuk bersamanya. Di hari-hari awal kepergiannya, aku duduk termangu memandangi piring kosong. Ayah, Ibu dan ibu mertuaku membujukku makan. Tetapi yang kuingat hanyalah saat suamiku membujukku makan kalau aku sedang mengambek dulu. Ketika aku lupa membawa handuk saat mandi, aku berteriak memanggilnya seperti biasa dan ketika malah ibuku yang datang, aku berjongkok menangis di dalam kamar mandi berharap ia yang datang. Kebiasaanku yang meneleponnya setiap kali aku tidak bisa melakukan sesuatu di rumah, membuat teman kerjanya kebingungan menjawab teleponku. Setiap malam aku menunggunya di kamar tidur dan berharap esok pagi aku terbangun dengan sosoknya di sebelahku.

Dulu aku begitu kesal kalau tidur mendengar suara dengkurannya, tapi sekarang aku bahkan sering terbangun karena rindu mendengarnya kembali. Dulu aku kesal karena ia sering berantakan di kamar tidur kami, tetapi kini aku merasa kamar tidur kami terasa kosong dan hampa. Dulu aku begitu kesal jika ia melakukan pekerjaan dan meninggalkannya di laptopku tanpa me-log out, sekarang aku memandangi komputer, mengusap tuts-tutsnya berharap bekas jari-jarinya masih tertinggal di sana. Dulu aku paling tidak suka ia membuat kopi tanpa alas piring di meja, sekarang bekasnya yang tersisa di sarapan pagi terakhirnyapun tidak mau kuhapus. Remote televisi yang biasa disembunyikannya, sekarang dengan mudah kutemukan meski aku berharap bisa mengganti kehilangannya  dengan kehilangan remote. Semua kebodohan itu kulakukan karena aku baru menyadari bahwa dia mencintaiku dan aku sudah terkena panah cintanya.

Aku juga marah pada diriku sendiri, aku marah karena semua kelihatan normal meskipun ia sudah tidak ada. Aku marah karena baju-bajunya masih di sana meninggalkan baunya yang membuatku rindu. Aku marah karena tak bisa menghentikan semua penyesalanku. Aku marah karena tak ada lagi yang membujukku agar tenang, tak ada lagi yang mengingatkanku sholat meskipun kini kulakukan dengan ikhlas. Aku sholat karena aku ingin meminta maaf, meminta maaf pada Allah karena menyia-nyiakan suami yang dianugerahi padaku, meminta ampun karena telah menjadi istri yang tidak baik pada suami yang begitu sempurna. Sholatlah yang mampu menghapus dukaku sedikit demi sedikit. Cinta Allah padaku ditunjukkannya dengan begitu banyak perhatian dari keluarga untukku dan anak-anak. Teman-temanku yang selama ini kubela-belain, hampir tak pernah menunjukkan batang hidung mereka setelah kepergian suamiku.

Empat puluh hari setelah kematiannya, keluarga mengingatkanku untuk bangkit dari keterpurukan. Ada dua anak yang menungguku dan harus kuhidupi. Kembali rasa bingung merasukiku. Selama ini aku tahu beres dan tak pernah bekerja. Semua dilakukan suamiku. Berapa besar pendapatannya selama ini aku tak pernah peduli, yang kupedulikan hanya jumlah rupiah yang ia transfer ke rekeningku untuk kupakai untuk keperluan pribadi dan setiap bulan uang itu hampir tak pernah bersisa. Dari kantor tempatnya bekerja, aku memperoleh gaji terakhir beserta kompensasi bonusnya. Ketika melihatnya aku terdiam tak menyangka, ternyata seluruh gajinya ditransfer ke rekeningku selama ini. Padahal aku tak pernah sedikitpun menggunakan untuk keperluan rumah tangga. Entah darimana ia memperoleh uang lain untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga karena aku tak pernah bertanya sekalipun soal itu.Yang aku tahu sekarang aku harus bekerja atau anak-anakku takkan bisa hidup karena jumlah gaji terakhir dan kompensasi bonusnya takkan cukup untuk menghidupi kami bertiga. Tapi bekerja di mana? Aku hampir tak pernah punya pengalaman sama sekali. Semuanya selalu diatur oleh dia.

Kebingunganku terjawab beberapa waktu kemudian. Ayahku datang bersama seorang notaris. Ia membawa banyak sekali dokumen. Lalu notaris memberikan sebuah surat. Surat pernyataan suami bahwa ia mewariskan seluruh kekayaannya padaku dan anak-anak, ia menyertai ibunya dalam surat tersebut tapi yang membuatku tak mampu berkata apapun adalah isi suratnya untukku.

Istriku Liliana tersayang,

Maaf karena harus meninggalkanmu terlebih dahulu, sayang. maaf karena harus membuatmu bertanggung jawab mengurus segalanya sendiri. Maaf karena aku tak bisa memberimu cinta dan kasih sayang lagi. Allah memberiku waktu yang terlalu singkat karena mencintaimu dan anak-anak adalah hal terbaik yang pernah kulakukan untukmu.

Seandainya aku bisa, aku ingin mendampingi sayang selamanya. Tetapi aku tak mau kalian kehilangan kasih sayangku begitu saja. Selama ini aku telah menabung sedikit demi sedikit untuk kehidupan kalian nanti. Aku tak ingin sayang susah setelah aku pergi. Tak banyak yang bisa kuberikan tetapi aku berharap sayang bisa memanfaatkannya untuk membesarkan dan mendidik anak-anak. Lakukan yang terbaik untuk mereka, ya sayang.

Jangan menangis, sayangku yang manja. Lakukan banyak hal untuk membuat hidupmu yang terbuang percuma selama ini. Aku memberi kebebasan padamu untuk mewujudkan mimpi-mimpi yang tak sempat kau lakukan selama ini. Maafkan kalau aku menyusahkanmu dan semoga Tuhan memberimu jodoh yang lebih baik dariku.

Teruntuk Farah, putri tercintaku. Maafkan karena ayah tak bisa mendampingimu. Jadilah istri yang baik seperti Ibu dan Farhan, ksatria pelindungku. Jagalah Ibu dan Farah. Jangan jadi anak yang bandel lagi dan selalu ingat dimanapun kalian berada, ayah akan disana melihatnya. Oke, Buddy!

Aku terisak membaca surat itu, ada gambar kartun dengan kacamata yang diberi lidah menjulur khas suamiku kalau ia mengirimkan note.

Notaris memberitahu bahwa selama ini suamiku memiliki beberapa asuransi dan tabungan deposito dari hasil warisan ayah kandungnya. Suamiku membuat beberapa usaha dari hasil deposito tabungan tersebut dan usaha tersebut cukup berhasil meskipun dimanajerin oleh orang-orang kepercayaannya. Aku hanya bisa menangis terharu mengetahui betapa besar cintanya pada kami, sehingga ketika ajal menjemputnya ia tetap membanjiri kami dengan cinta.

Aku tak pernah berpikir untuk menikah lagi. Banyaknya lelaki yang hadir tak mampu menghapus sosoknya yang masih begitu hidup di dalam hatiku. Hari demi hari hanya kuabdikan untuk anak-anakku. Ketika orangtuaku dan mertuaku pergi satu persatu meninggalkanku selaman-lamanya, tak satupun meninggalkan kesedihan sedalam kesedihanku saat suamiku pergi.

Kini kedua putra putriku berusia duapuluh tiga tahun. Dua hari lagi putriku menikahi seorang pemuda dari tanah seberang. Putri kami bertanya, “Ibu, aku harus bagaimana nanti setelah menjadi istri, soalnya Farah kan ga bisa masak, ga bisa nyuci, gimana ya bu?”

Aku merangkulnya sambil berkata “Cinta sayang, cintailah suamimu, cintailah pilihan hatimu, cintailah apa yang ia miliki dan kau akan mendapatkan segalanya. Karena cinta, kau akan belajar menyenangkan hatinya, akan belajar menerima kekurangannya, akan belajar bahwa sebesar apapun persoalan, kalian akan menyelesaikannya atas nama cinta.”

Putriku menatapku, “seperti cinta ibu untuk ayah? Cinta itukah yang membuat ibu tetap setia pada ayah sampai sekarang?”

Aku menggeleng, “bukan, sayangku. Cintailah suamimu seperti ayah mencintai ibu dulu, seperti ayah mencintai kalian berdua. Ibu setia pada ayah karena cinta ayah yang begitu besar pada ibu dan kalian berdua.”

Aku mungkin tak beruntung karena tak sempat menunjukkan cintaku pada suamiku. Aku menghabiskan sepuluh tahun untuk membencinya, tetapi menghabiskan hampir sepanjang sisa hidupku untuk mencintainya. Aku bebas darinya karena kematian, tapi aku tak pernah bisa bebas dari cintanya yang begitu tulus.


September 14, 2014

AKHIRI DENGAN KEBIASAAN BERSYUKUR

AKHIRI DENGAN KEBIASAAN BERSYUKUR

Pernahkah Anda memberikan sesuatu kepada orang lain, membantu orang lain dan kemudian mereka yang menerimanya mengucapkan terimakasih kepada Anda ? Bagaimana perasaan Anda sewaktu dapat memberikan sesuatu kepada orang lain, menolong orang lain yang memerlukan bantuan dan mereka mengucapkan terimakasih atas bantuan Anda ? Perasaan Anda tentu senang dan bahagia, bukan. Meskipun sekedar ucapan terimakasih, namun itu dapat menyempurnakan kebahagiaan Anda dalam memberikan sesuatu. Demikian sisi perasaan dari sang pemberi dengan ungkapan terimakasih dari yang diberinya.

Sadarkah kita, bahwa hidup ini adalah pemberian Allah Tuhan Yang Memiliki Kehidupan ? Hidup ini bukan kehendak kita, tetapi kehendak Allah SWT. Maka berdirilah kita dalam kehidupan dunia ini sebagai "objek" penerima kehidupan dengan segala karunia yang diberikanNya. Berdirilah pada posisi diri kita sebagai "hamba" atau "abdi" dari Allah Yang Maha Kuasa terhadap hidup kita.

Menyadari posisi diri kita, pikirkanlah kembali apa yang sudah diberikan Allah Tuhan Yang Maha Pemberi kepada diri kita ?. Pikirkan kembali, begitu banyaknya kenikmatan dan anugerah istimewa yang sudah diberikan Tuhan kepada kita. Renungkan kembali apa yang ada dalam diri kita saat ini, betapa banyak yang sudah kita miliki.

-      Kesehatan badan kita dan keluarga kita
-      Sandang pangan yang sudah kita nikmati selama ini
-      Kehidupan yang tenang, damai dan bahagia selama ini
-      Betapa sangat bernilainya memiliki kedua mata yang mampu melihat dunia.
-      Betapa berharganya memiliki kedua kaki yang berfungsi menopang beban tubuh kita.

Betapa sangat istimewanya karunia kecerdasan akal dan pikiran yang sehat. Dengan kekuatan kecerdasan akal dan pikiran yang sehat ini, manusia mampu menjalani hidup dengan berbagai dinamikanya. Menjelajahi dunia dengan pengetahuan, menembus ruang angkasa dan kedalaman lautan dengan kecerdasannya. Apakah kita mengira bahwa semua hal itu begitu sepele dan sederhana, sehingga dengan mudah mengabaikannya ? Apakah kita merasa semua itu sangatlah tidak berarti dibandingkan dengan sesuatu yang kita kejar dan belum kita miliki selama ini ?

Pikirkan, apakah kita mau menukar kedua mata dengan harta berlimpah, misalnya. Ataukah kita rela menjual pendengaran dengan emas permata, menggadaikan kesehatan dengan istana yang menjulang tinggi ?. Maukah kita menukar kedua tangan dan kaki dengan mobil mewah, sementara kita buntung ?
Atau bersediakah kita memiliki harta segunung, tetapi akal dan pikiran tidak sehat, alias tidak waras ? Begitulah sebenarnya, kita ini telah hidup berada dalam kenikmatan yang pasti tidak akan rela melepaskannya hanya demi harta, kekayaan, jabatan, kenikmatan dunia dan sesuatu yang belum kita miliki.

Maka pantaslah kalau kemudian kita senantiasa mengucapkan terimakasih kepada Tuhan Sang Pemberi Kehidupan. Pantaslah kalau kemudian kita bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Pengasih Lagi Maha Pemberi. Bersyukur, berarti menghargai karunia yang diberikanNYA, mengembangkan anugerah berupa potensi diri dan menggunakannya untuk mensejahterakan diri dan orang lain. Kesadaran bersyukur akan pemberian Allah dapat membuka mata hati kita, membuka pikiran kita menjadi fokus pada memberi dan kesediaan untuk berbagi, bukannya fokus pada menunggu dan mengharap sesuatu yang belum ada.

Akhiri Dengan Kebiasaan Bersyukur merupakan kerendahan hati, mengakui mengakui adanya karunia dari Allah Yang Maha Memiliki Kehidupan, bukan dari lainnya. Apakah posisi kita saat ini sebagai pengusaha, sebagai karyawan, sebagai pegawai, direktur, manager, orang sukses, orang kaya, pemimpin, rakyat biasa, atau siapa saja, pantas mengakhir setiap langkah dalam kehiduapn sehari-hari dengan bersyukur. Apa yang sudah kita dapatkan dalam berbisnis, dalam bekerja, dalam berusaha, pada hakekatnya datangnya dari Allah. Mungkin saja penyebabnya dari sahabat, keluarga, saudara, teman bekerja, berdagang, berbisnis, atau lainnya. Semua itu hanyalah perantara.

Maka senantiasa Akhiri Dengan Kebiasaan Bersyukur, ini artinya kita mengembalikan kehidupan kita kepada Sang Pemberi Kehidupan. Menyadari semuanya adalah pemberian Allah Sang Maha Pemberi. Kebiasaan ini akan mempengaruhi keikhlasan hati dan lisan untuk menyanjung Dzat Yang Maha Agung. Kemudian anggota badan kita akan menggunakan segala karunia tersebut untuk kehidupan sesuai dengan kehendak Allah Sang Pemberi Kehidupan.

Mengakhiri Dengan Kebiasaan Bersyukur, tidak berarti mematikan semangat dan
motivasi untuk maju dan meraih prestasi kehidupan yang lebih tinggi. Namun kesadaran seperti ini akan menjadikan kita tidak serakah serta mengabaikan anugerah dan karunia yang sudah kita miliki. Kesadaran seperti ini, menjadikan kita mampu menikmati setiap tahapan proses kehidupan menuju tujuan dengan penuh rasa syukur dan kebahagiaan.

Kebiasaan Bersyukur adalah manifestasi dari aplikasi ucapan "hamdallah", sebagaimana diajarkan dalam kehidupan keagamaan kita. Dalam setiap gerak langkah kehidupan, dalam setiap apa yang kita dapatkan, dalam setiap apa yang telah kita lakukan, senantiasa akhiri dengan ucapan, "Segala Puji Dan Syukur Hanya Kepada Allah SWT". Karena sesungguhnya semuanya adalah milik Allah Tuhan Yang Maha Memiliki dan akan kembali kepadaNYA. Jadikanlah hal ini kebiasaan Anda, maka rasakan keberhasilan yang sesungguhnya, “the ultimate meaning” atau makna tertinggi kehidupan, yakni merasakan kebahagiaan dalam rasa syukur kepada Tuhan. Salam Motivasi Nurani Indonesia.


Sumber: Akhiri Dengan Kebiasaan Bersyukur Oleh Eko Jalu Santoso, Founder